
NEW YORK, iNews.id - Menteri Luar Negeri Suriah Walid Al Moualem mendesak pasukan Amerika Serikat (AS), Prancis, dan Turki segera meninggalkan negaranya. Dia menyebut tiga negara itu sebagai kekuatan penjajah.
Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB, New York, AS, Sabtu kemarin, Al Moualem menegaskan, keberadaan pasukan Amerika cs di negaranya dengan dalih memerangi terorisme ilegal. Dia mengancam akan melakukan tindakan terhadap tentara asing.
"Mereka harus segera mundur tanpa syarat apa pun," katanya, dikutip dari AFP, Minggu (30/9/2018).
Al Moualem menambahkan, pasukan Suriah akan memerangi sisa-sisa kekuatan terorisme. Provinsi Idlib merupakan basis kekuatan mereka terakhir.
Suriah, lanjut dia, ingin membersihkan semua wilayahnya dari dua kelompok, yakni teroris dan pasukan asing yang ilegal.
Dia menegaskan, perang terhadap terorisme di Suriah segera berakhir sehingga tidak ada alasan lagi bagi Amerika dan sekutunya untuk tetap bercokol. Namun pemerintahan Bashar Al Assad masih mempertahankan pasukan Rusia, Iran, serta kelompok Hezbollah dari Lebanon.
Sejak perang sipil, termasuk operasi pemberantasan ISIS, pecah di Suriah pada 2011, lebih dari 360.000 orang tewas. Jutaan warga harus meninggalkan rumah mereka.
AS masih mempertahankan 2.000 pasukan di Suriah. Mereka menjalankan misi melatih pasukan Kurdi serta milisi Arab-Suriah yang menentang pemerintahan Bashar Al Assad. Sementara Prancis masih menyisakan lebih dari 1.000 pasukan.
Lebih lanjut Al Moualem juga meminta kepada pengungsi untuk kembali ke rumah, meskipun perang belum berakhir.
Kondisi Suriah sudah memenuhi syarat bagi mereka untuk kembali. Menurut dia, Suriah tak seperti apa yang disampaikan komunitas internasional yang dianggapnya justru menimbulkan ketakutan.
"Kami menyerukan kepada komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan untuk memfasilitasi pemulangan ini. Mereka memolitisasi apa yang seharusnya menjadi masalah kemanusiaan murni," ujarnya.
Pernyataan Al Moualem disampaikan di tengah upaya pasukan pemerintah untuk merebut kembali Idlib sepenuhnya. Perang ini berpotensi mengorbankan nyawa ratusan ribu warga sipil.
AS dan sekutunya berkali-kali mengingatkan pemerintahan Assad agar tak menyerang Idlib. Apalagi, Presiden Donald Trump mencurigai penggunaan senjata kimia oleh pasukan Assad, seperti terjadi pada perang sebelumnya. AS dan sekutu sudah dua kali menyerang Suriah terkait penggunaan senjata kimia.
Editor : Anton Suhartono
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2DIcbyN
No comments:
Post a Comment