
JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Oktober kembali mengalami defisit sebesar 1,82 miliar dolar AS. Defisit neraca perdagangan ini terjadi karena nilai impor yang lebih tinggi daripada ekspor. Impor tercatat 17,62 miliar dolar AS sementara ekspor 15,8 miliar dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, defisit neraca perdagangan yang besar akan memengaruhi neraca pembayaran Indonesia. Namun, baik pemerintah dan otoritas moneter akan tetap menjaga defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
"Untuk keseluruhan tahun 2018 itu (defisi transaksi berjalan) di bawah 3 persen dari PDB, oleh karena itu sudah memperhitungkan neraca perdagangan yang hari ini diperhitungkan oleh BPS," kata Perry ditemui di kantornya, Kamis (15/11/2018).
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS, meskipun ekspor mengalami peningkatan sebesar 5,87 persen month to month (mtm), namun angka impor Indonesia mengalami peningkatan drastis sebesar 20,60 persen mtm.
Menurut Perry tingginya angka defisit perdagangan merupakan suatu keharusan yang perlu diambil, guna membangun perekonomian dalam negeri, terutama di sektor infrastruktur. "impor ini memang banyak komponen yang barang modal yang sejalan dengan pembangunan infrastruktur," katanya.
BPS sebelumnya juga mengatakan bahwa tingginya angka impor didominasi oleh produk nonmigas. Produk ini di antaranya mesin pesawat hingga kelistrikan. Kepala BPS Suhariyanto berharap dengan meningkatnya impor barang modal dapat mengerek perekonomian Indonesia.
"Kenaikan impor barang modal kita harapkan akan berpengaruh besar ke komponen PTMB, kita harap ini akan menggerakkan pertumbuhan ekonomi di triwulan IV," kata Suhariyanto.
Sebagai informasi, defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III-2018 meningkat sejalan dengan menguatnya permintaan domestik. Defisit transaksi berjalan pada triwulan III-2018 tercatat sebesar 8,8 miliar dolar AS (3,37 persen PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan defisit triwulan sebelumnya sebesar 8,0 miliar dolar AS (3,02 persen PDB).
“Dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga triwulan III-2018 tercatat 2,86 persen PDB sehingga masih berada dalam batas aman,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/11/2018).
Editor : Ranto Rajagukguk
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2B8JQOQ
No comments:
Post a Comment