
JAKARTA, iNews.id - Pemerintah memiliki sejumlah amunisi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dengan menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Misalnya dengan menekan impor dengan perluasan penggunaan biodiesel 20 (B20) dan menggenjot ekspor batu bara.
Namun, menurut Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal, dari sisi fiskal satu-satunya cara adalah dengan meniadakan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, selama ini subsidi BBM menambah beban di Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah (APBN).
Sementara dana APBN diperoleh pemerintah melalui utang luar negeri sehingga akan memperbesar CAD. Menurut dia, hanya cara tersebut yang bisa menstabilkan rupiah dalam jangka pendek dibandingkan mandotori perluasan B20.
"Sebenarnya CAD kita terjadi karena memang defisit impor migas yang paling besar. Nah itu tekanan pada rupiah paling besar selain faktor eksternal sehingga solusinya adalah potong subsidi, tidak ada cara lain," ujarnya saat dihubungi iNews.id, Minggu (2/9/2018).
Selain itu, upaya pemerintah menggenjot ekspor juga membutuhkan waktu untuk menerapkannya karena diperlukan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) yang memadai untuk meningkatkan produksi dalam negeri. "Dan ini adalah masalah bias produktivitas antara Indonesia dengan partner country, dengan AS, dalam hal ini terkait dengan tekanan dalam dolar AS," kata dia.
Upaya pemerintah menekan CAD dengan meningkatkan ekspor batu bara juga dinilai meragukan. Menurut dia, meskipun kuota produksi batu bara ditingkatkan, belum tentu berdampak besar pada peningkatan ekspor.
"Kalaupun dinaikkan itu seberapa besar sih dampaknya, saya sangat meragukan itu," ucapnya.
Apalagi China sebagai tujuan ekspor batu bara terbesar belum berada dalam level yang sangat membutuhkan pasokan dalam jumlah besar. Dengan demikian, sekalipun kuota produksi ditingkatkan tapi tidak ada yang dapat menyerapnya maka tak ada pengaruhnya.
"Sekarang juga kita lihat China sebagai sumber partner kita dalam ekspor batu bara juga tidak dalam kondisi yang over demand sehingga kemudian kita bisa mensuplai besar-besaran," tuturnya.
Ia melanjutkan, peningkatan produksi batu bara juga tidak relevan dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah di sektor tambang. Padahal, pemerintah bahkan berupaya meningkatkan nilai tambah di sektor tambang dengan fokus membangun semelter.
"Dan ini pada akhirnya kalau dilihat secara makro lagi, investor akan melihat ini terutama investor di bidang ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) akan melihat ini sebagai faktor yang sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan mereka. Ini kan tidak konsisten sehingga mungkin mereka akan menghold untuk melakukan investasi lebih di sana," ucapnya.
Editor : Ranto Rajagukguk
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2wGQgRQ
No comments:
Post a Comment