
JAKARTA, iNews.id – Pernyataan Ketua DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon, terkait dikotomi antara perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) dianggap merugikan sivitas akademika dan para alumni lulusan perguruan tinggi swasta. Pernyataan yang dinilai tendensius itu akhirnya memicu reaksi keras alumni sejumlah perguruan tinggi swasta di Tanah Air.
Salah satu alumni Universitas Trisakti, Mamit Setiawan menuturkan, pernyataan Jansen itu tidak sejalan dengan misi pemerintah yang sudah sejak lama mendorong agar tidak ada lagi dikotomi antara PTN dan PTS. “Sangat disayangkan pernyataan dari seorang politikus muda yang secara tidak langsung telah melukai dan merendahkan civitas akademi serta para alumni perguruan tinggi swasta. Harusnya jangan sampai ada pernyataan seperti itu,” kata Mamit di Jakarta, Senin (23/12/2019).
Menurut dia, sebagai seorang politikus dan juga terpelajar, pernyataan Jansen amat tidak layak diucapkan. Mamit mengingatkan, perguruan tinggi terbaik di Indonesia bukan hanya berasal dari perguruan tinggi negeri. Perguruan tinggi swasata juga dapat melahirkan lulusan-lulusan terbaik dan saat ini sudah banyak yang memberikan kontribusi yang baik kepada kemajuan bangsa Indonesia sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya.
“Bahkan banyak lulusan perguruan tinggi swasta yang keberhasilannya diakui oleh dunia luar,” ucap Mamit.
Dia pun menuntut Jansen untuk meminta maaf dan mencabut pernyataanya tersebut karena dinilai telah melukai perasaan sekaligus merendahkan sivitas akademi dan para alumni perguruan tinggi swasta. “Jika tidak mencabut pernyataan tersebut, maka kami tidak akan segan-segan melakukan somasi dan aksi kepada saudara Janson,”katanya.
Sebelumnya, Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon merespons pernyataan politikus Partai Golkar, Maman Abdurahman, terkait kisruh Jiwasraya di salah satu media daring nasional. Dalam responsnya ketika itu, Jansen justru membawa-bawa dikotomi antara PTN dan PTS.
“Terkait Jiwasraya, kalau memang Maman ini merasa IQ-nya tinggi, walau saya tahu dia kuliah di kampus swasta, jauh lebih baik sayalah yang kuliah di universitas negeri ternama. Silakan saja dia tunjukkan data ketika Jiwasraya ini diserahkan dari pemerintahan SBY ke pemerintahan Jokowi, dia dalam posisi sakit parah?” ucap Jansen saat itu.
Alumni Universitas Tarumanegara, Ary Yudianto, menilai pernyataan Jansen itu tidak elok. Menurut dia, yang seharusnya dilihat dari lulusan-lulusan kampus negeri maupun swasta itu adalah apa saja karya nyata mereka terhadap bangsa dan negara. Dia pun mengingatkan Jansen untuk fokus membahas yang berkaitan dengan substansi persoalan yang diperdebatkan saja. “Jangan melebar ke mana-mana,” ujarnya.
Salah satu alumni Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Fahman Habibi, menilai saat ini antara PTN dan PTS sudah tidak ada lagi pembeda, terutama sejak adanya akreditasi dari BANPT. Dia menjelaskan, yang jadi pembeda sekarang adalah kualitas lulusannya.
“Jika dipertanyakan soal kualitas, menurut saya banyak juga lulusan perguruan tinggi swasta yang hebat-hebat bahkan bisa mendapat beasiswa di beberapa kampus ternama di tingkat dunia,” kata Fahman.
Selain itu, kata dia, banyak pula alumni perguruan tinggi swasta yang sukses di bidang masing-masing. Sementara, alumni kampus negeri banyak pula yang sukses di jalur birokrasi. “Jadi antara kampus negeri dan swasta harus saling berbagi peran. Jangan lagi ada dikotomi antara swasta dan negeri. Jika tidak ada perguruan tinggi swasta maka pasti pemerintah akan kesulitan meningkatkan SDM jika hanya mengandalkan kampus negeri,” tuturnya.
Ia juga menyarankan kepada para alumni perguruan tinggi negeri untuk tidak jemawa karena segala fasilitas dan operasional mereka berasal dari keuangan negara. Dengan kata lain, PTN adalah kampus yang disubsidi karena dibiayai negara sehingga ada kewajiban bagi masyarakat untuk ikut mengawasi. “Sementara kampus swasta dikelola secara mandiri, dan mahasiswanya mengeluarkan biaya tanpa ada subsidi pemerintah,” ucapnya.
Editor : Ahmad Islamy Jamil
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2EMGlhK
No comments:
Post a Comment