
TOKYO, iNews.id - Pemerintah Jepang terus mencermati risiko ketidakpastian global karena akan berpengaruh terhadap pola penerbitan kebijakan.
Mengutip Reuters, Minggu (6/1/2019) tanda-tanda perlambatan permintaan global dan kenaikan tajam baru-baru ini terhadap mata uang yen telah mengaburkan prospek ekonomi yang bergantung pada ekspor. Hal tersebut juga memicu para pembuat kebijakan di Tokyo tentang dampak buruk pergerakan pasar yang bergejolak pada pertumbuhan ekonomi.
"Sementara ekonomi global pulih secara bertahap, ada berbagai risiko terhadap prospek ke depan," kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.
"Fundamental ekonomi Jepang sehat, tetapi kami ingin memandu kebijakan dengan cermat tentang berbagai risiko."
Jepang juga akan berupaya memperbaiki gesekan perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan mendorong terciptanya koordinasi global sebagai pemimpin kelompok negara G-20.
"Sebagai ketua G-20, Jepang berharap dapat memainkan peran utama untuk mendorong kerja sama global untuk mencapai pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan," katanya, seraya menambahkan bahwa AS dan Cina harus mematuhi peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengenai perdagangan .
Tanda-tanda lebih lanjut pelemahan ekonomi Jepang dapat meningkatkan spekulasi pasar bahwa Abe mungkin akan menunda kenaikan pajak penjualan yang dijadwalkan menjadi 10 persen dari 8 persen pada Oktober.
Kebijakan tersebut telah ditunda dua kali, setelah kenaikan menjadi 8 persen pada tahun 2014 mendorong perekonomian ke dalam resesi.
Abe mengatakan, peningkatan penerimaan negara dari kenaikan pajak menjadi kunci sistem kesejahteraan sosial yang berkelanjutan di Jepang, dan pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang cukup untuk memitigasi agar pertumbuhan ekonomi tak terpukul dari kenaikan pajak.
"Tidak ada perubahan pada sikap kami untuk menaikkan pajak penjualan sesuai jadwal, kecuali Jepang dikejutkan dengan skala (runtuhnya) Lehman Brothers," kata Abe.
Editor : Ranto Rajagukguk
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping http://bit.ly/2saqX8R
No comments:
Post a Comment