
BEIJING, iNews.id - Studi yang dilakukan para peneliti China mengungkap, tsunami pernah menyapu hampir semua populasi di Provinsi Guangdong sekitar 1.000 tahun lalu. Bencana dahsyat itu masih sangat mungkin terjadi di masa mendatang.
Tim dari University of Science and Technology of China (USTC) serta East China Normal University menyampaikan peringatan potensi bahaya tsunami ini setelah bertahun-tahun melakukan studi dan penelitian lapangan.
Dipimpin Sun Liguang dan Xie Zhouqing dari USTC, tim menyimpulkan bahwa tsunami pernah terjadi di Laut China Selatan pada 1076, menghantam pantai wilayah yang kini menjadi provinsi Guangdong.
Mereka pertama kali menemukan bukti gelombang laut merusak Pulau Dongdao di kepulauan Xisha pada 2013. Di antara buktinya adalah temuan karang dan batu besar yang terkubur atau tertanam sejauh 200 meter dari pantai. Mereka yakin hanya tsunami yang bisa mengangkat batu raksasa sejauh itu.
Melalui pemodelan komputer pada tahun-tahun berikutnya, para peneliti mencapai kesimpulan bahwa tsunami kemungkinan dipicu oleh gempa bumi di Palung Manila. Tsunami menghantam pantai-pantai Provinsi Guangdong dan Hainan, serta beberapa bagian Thailand.
Tim juga menemukan pecahan keramik Dinasti Song (960-1279) di lapisan endapan tsunami pulau terpencil Nanao yang sekarang berada di bawah pemerintahan Kota Shantou. Para peneliti percaya dari bukti tersebut bahwa Pulau Nanao pernah dihantam tsunami.
Karena itu para akademisi meminta Pemerintah China mempersiapkan langkah-langkah antisipasi, terutama untuk melindungi fasilitas strategis, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir dan proyek infrastruktur yang dibangun di bawah Belt and Road Inisiative.
China menggelontorkan dana sangat besar untuk Belt and Road Inisiative, menghubungkan negara itu dengan Asia, Afrika, Eropa dan sekitarnya melalui darat dan laut. Infrastruktur yang dibangun di antaranya pelabuhan, jalur kereta, jalan, dan pembangkit listrik di berbagai negara.
“Studi ini mengonfirmasi risiko tsunami di Laut China Selatan. Risiko semacam ini harus dipertimbangkan dalam perencanaan dan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, pelabuhan, dan struktur cadangan minyak di garis pantai China di masa depan," tulis para peneliti dalam makalah yang diterbitkan buletin Science China edisi Januari 2019, dikutip dari South China Morning Post, Kamis (3/1/2019).
Gempa bumi yang mengguncang Jepang pada 2011 memicu tsunami yang menghancurkan reaktor nuklir di Daiichi, Fukushima. Kerusakan itu dianggap yang paling parah sejak kebocoran fasilitas nuklir Chernobyl pada 1986.
Hasil studi mereka juga berhasil mendorong pemerintah pusat membangun sistem peringatan dini tsunami dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan laporan Science and Technology Daily, China memasang sistem peringatan tsunami di dekat Palung Manila di Laut China Selatan pada awal 2018. Sistem berfungsi memantau pasang-surut air laut lalu melanjutkan informasinya melalui satelit ke departemen pertahanan jika ada tsunami yang datang.
Editor : Anton Suhartono
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping http://bit.ly/2CN7Nf3
No comments:
Post a Comment