
JAKARTA, iNews.id - PT Pertamina (Persero) telah menunda penerbitan obligasi global (global bond) senilai lebih dari 2 miliar dolar AS. Pasalnya, saat ini kondisi pasar keuangan masih volatile sementara investor meminta bunga yang tinggi dari 3,85 persen menjadi 5,63 persen.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, pihaknya meminta Pertamina untuk mundur dari penerbitan global bond ini. Pasalnya, bukan karena tidak laku, tapi ia menilai Pertamina tidak perlu memaksakan diri dengan memberikan suku bunga yang tinggi.
"Jadi bukan karena tidak laku tapi karena bungannya terlalu tinggi jadi saya mengatakan tidak," ucapnya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu (31/10/2018).
Pertamina menawarkan global bond ini dalam denominasi dolar AS kepada investor global di AS dan Eropa. Dengan demikian, di tengah depresiasi rupiah yang dapat terjadi sewaktu-waktu membuat bunga surat utang yang dibayarkan dalam dolar AS menjadi semakin mahal.
Apalagi menurut dia, Pertamina belum membutuhkan pendanaan dari penerbitan global bond ini. Dengan demikian, penerbitan global bond dengan bunga yang tinggi justru tindakan yang hanya membebankan Pertamina.
"Waktu itu Bu Nicke telepon saya, ini bunganya akan jauh lebih tinggi daripada PLN. Saya bilang kamu kan tidak butuh duitnya sekarang? Ya sudah kamu mundur saja dari pasar," ucapnya.
Ia melanjutkan, ketimbang menerbitkan global bond yang memerlukan biaya mahal untuk pembayaran bunganya, maka Pertamina dapat memanfaatkan dana dari perbankan asing. "Saya katakan mundur saja kamu kan tidak butuh uangnya, ngapain kamu bayar mahal sesuatu yang kamu tidak perlu. Kamu bisa tarik sesuatu fasilitas yang masih ada di perbankan asing," kata dia.
Rencananya, global bond tersebut akan diterbitkan dalam dua tenor di mana dana yang dikumpulkan akan digunakan untuk mendanai investasi jangka panjang di sektor hulu minyak dan gas (migas) dan panas bumi.
Adapun tenor yang akan diterbitkan, yaitu obligasi yang akan jatuh tempo pada 2021 senilai 1 miliar dolar AS dengan kupon 5,25 persen. Kemudian, obligasi yang akan jatuh tempo di 2022 dengan nilai pokok 1,24 miliar dolar AS dengan kupon 4,87 persen.
"Jadi PLN mengeluarkan global bond itu biasa dilakukan jangka pendek dan jangka menengah. Sekarang harus kita keluarkan lagi untuk menggantikan yang pendek. Pertamina masuk setelah PLN, pasarnya itu drop total, seluruh dunia drop keadaannya sangat jelek," tuturnya.
Editor : Ranto Rajagukguk
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2CSuZsM
No comments:
Post a Comment