
JAKARTA, iNews.id – Pemerintah diminta mewaspadai musim kemarau yang kini tengah melanda banyak daerah sehingga menyebabkan stok beras menipis karena masa panen yang terganggu. Alhasil, kondisi tersebut bisa mengerek harga beras dan akhirnya menimbulkan inflasi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, pemerintah harus memberi perhatian khusus terhadap stok beras di lapangan. Pasalnya, sumbangan inflasi dari komoditas ini cukup besar jika terjadi kenaikan harga.
"Kalau beras menurut saya perlu perhatian khusus. Biasanya kalau kita memasuki bulan Oktober dan November itu adalah musim kemarau," ujarnya di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/9/2018).
Dia juga menyoroti harga Gabah Kering Panen (GKP) yang mengalami peningkatan pada Agustus lalu. Ini menandakan, stok ataupun panen di daerah mulai berkurang dari biasanya.
BPS mencatat rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp 4.774 per kilogram pada Agustus 2018 atau naik 3,05 persen dibandingkan bulan lalu. Sementara secara umum, harga beras di tingkat penggilingan menunjukkan penurunan.
Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan Rp 9.172 per kilogram atau turun sebesar 0,28 persen. "Kami sudah lacak anomali ini dan kami temukan di penggilingan yang dijual adalah stok lama. Ada jeda beberapa saat sebelum gabah yang baru dikeluarkan. Itulah penyebab anomali ini terjadi," katanya.
Suhariyanto berharap harga bahan pangan dapat dijaga agar tidak bergejolak supaya inflasi dapat tetap terkendali hingga Desember 2018.
"Kita ke depan perlu ekstra hati-hati. Memang di beberapa bulan tertentu ada komoditas yang bergeraknya agak liar, telur ayam kemarin bermasalah di Juni dan Juli tetapi sekarang sudah mengalami penurunan secara umum," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/9/2018).
Suhariyanto terutama mewaspadai kelompok pengeluaran untuk komponen bahan makanan yang tercatat mengalami inflasi dari tahun ke tahun (Agustus 2018 terhadap Agustus 2017) sebesar 4,90 persen.
Selain itu, inflasi untuk komponen bergejolak (volatile prices) juga perlu diwaspadai karena mengalami inflasi dari tahun ke tahun (Agustus 2018 terhadap Agustus 2017) sebesar 4,97 persen.
"Itu perlu menjadi perhatian supaya kita lebih waspada ke depan untuk menjaga agar harga pangan tidak bergejolak sehingga inflasi tetap terkendali hingga Desember 2018," ujar Suhariyanto.
Editor : Ranto Rajagukguk
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2PtKzhN
No comments:
Post a Comment