
JAKARTA, iNews.id - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tertekan melanjutkan pelemahan akhir pekan lalu.
Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi memprediksi IHSG bergerak dalam rentang 5.940-6.034. Secara teknikal, indeks cenderung melemah yang terkonfirmasi lewat pola bearish engulfing namun berhasil tertahan dan whipsaw pada support MA20 hingga membentuk pola bullish counter attack.
"Meskipun demikian, indikasi bearish masih cenderung membayangi di mana indikator Stochastic terpola kuat dead-cross pada area overbought. Diperkirakan IHSG masih akan berpeluang melemah di awal pekan," ujarnya dalam risetnya, Senin (3/9/2018).
IHSG akhir pekan lalu melemah 0,01 persen atau 0,51 poin di level 6.018 setelah sempat melemah lebih dari 1 persen di awal sesi perdagangan. Saham-saham sektor aneka industri dan properti menjadi penekan pelemahan sejak sesi pertama, sedangkan menguatnya saham-saham sektor industri dasar dan konsumer menjadi penahan pelemahan. "Investor asing kembali tercatat net sell Rp434,81 miliar," kata dia.
Pelemahan tersebut, seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah di awal sesi perdagangan menjadi faktor utama. Rupiah sempat melemah ke level Rp14.750 per dolar AS menjadi yang terlemah sejak krisis keuangan asia di tahun 1998.
"Di mana (saat krisis 1998) bertambahnya negara emerging market yang terancam bangkrut seperti Argentina dan Turki menjadi kekhawatiran investor asing terhadap negara berkembang," ucapnya.
Sementara itu, menutup bulan Agustus mayoritas saham di Asia terkonsolidasi cenderung tertekan sejak awal sesi perdagangan. Indeks HangSeng (-0,98 persen) dan CSI (-0,50 persen) memimpin pelemahan, sedangkan Nikkei (-0,02 persen) dan TOPIX (-0,22 persen) ditutup sedikit melemah. "Pembicaraan Trump yang cukup keras pada perdagangan antaran China-AS menjadi faktor utama," tuturnya.
Kemudian, bursa Eropa mengikuti bursa saham di Asia dan menutup perdagangan di akhir pekan dengan pelemahan. Indeks Eurostoxx (-1,11 persen), FTSE (-1,11 persen), dan DAX (-1,04 persen) melemah cukup signifikan.
"Kesepakatan perdagangan antara AS dan Eropa yang mengkhawatirkan membuat saham-saham produsen mobil di Eropa memimpin pelemahan," ungkapnya.
Sentimen selanjutnya, diproyeksi pada awal bulan investor akan terfokus pada data indeks kinerja sektor manufatur, indeks harga produksi, dan indeks kinerja sektor jasa. Sementara dari dalam negeri data tingkat inflasi dan pertumbuhan kinerja sektor manufaktur menjadi fokus investor.
Adapun saham-saham yang masih dapat dicermati diantaranya ANTM, CPIN, INDY, SSIA, MAIN, dan TRAM.
Editor : Rahmat Fiansyah
from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2LQ6BJe
No comments:
Post a Comment