Pages

Tuesday, August 28, 2018

Rupiah Turun Tipis ke Rp14.626, Gagal Manfaatkan Pelemahan Dolar AS

JAKARTA, iNews.id – Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot terdepresiasi pada perdagangan Selasa (28/8/2018) sore.

Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp14.626 per dolar AS, turun 6 poin atau 0,04 persen dibandingkan posisi kemarin di Rp14.620 per dolar AS.

Rupiah sempat dibuka menguat di Rp14.60 7 per dolar AS sebelum kembali mendapat tekanan jelang penutupan. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp14.607-14.626 per dolar AS. Sementara sejak awal tahun, rupiah melemah 7,9 persen terhadap greenback.

Data Reuters menunjukkan, rupiah melemah ke Rp14.629 per dolar AS dengan rentang pergerakan Rp14.605-14.634 per dolar AS selama sesi perdagangan.

Berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia Selasa 28 Agustus 2018, rupiah melemah 4 poin menjadi Rp14.614 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp14.610 per dolar AS.

Posisi greenback sebenarnya melemah. Indeks Dolar AS yang melacak pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama melemah ke 94,64. Analis Senior CSA Research Institue Reza Priyambada di Jakarta, mengatakan berkurangnya kekhawatiran perang dagang antara Amerika Serikat dan para mitra dagangnya membuat laju dolar AS cenderung tertahan.

"Kali ini, kesepakatan dagang yang tercapai antara AS dan Meksiko direspon baik pasar sehingga mendorong minat pelaku pasar terhadap aset-aset negara berkembang," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar juga merespons pernyataan The Fed di akhir pekan lalu yang mengatakan akan adanya kenaikan bertahap suku bunga The Fed seiring membaiknya ekonomi AS.

"Adanya pernyataan tersebut mengurangi ketidakpastian akan rencana The Fed terhadap suku bunganya," katanya.

Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM, Jameel Ahmad mengatakan pidato Ketua The Fed Jerome Powell di Jackson Hole yang menyatakan laju pengetatan moneter tahun depan tidak akan sama seperti 2018 membuat adanya perbedaan konsensus di kalangan pelaku pasar.

"Sebagian pihak menafsirkan the Fed tidak memiliki alasan untuk mempercepat kenaikan suku bunga, tapi sebagian menilai akan ada kenaikan suku bunga bertahap yang menyiratkan pengetatan kebijakan moneter AS secara konsisten. Konsensus bervariasi ini mungkin membuat pergerakan sejumlah mata uang bervariasi," katanya.

Editor : Rahmat Fiansyah

Let's block ads! (Why?)

from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2P9He7p

No comments:

Post a Comment