Pages

Monday, September 2, 2019

Sekolah Kembali Dibuka usai Liburan, Siswa Hong Kong Boikot Kegiatan Belajar

HONG KONG, iNews.id - Ratusan siswa di Hong Kong memboikot kegiatan belajar di sekolah, Senin (2/9/2019), sebagai protes atas keengganan pemerintah membatalkan amandemen RUU ekstradisi.

Pada Senin (2/9/2019), aktifitas sekolah dan universitas dimulai kembali dimulai setelah liburan musim panas selama dua bulan berakhir.

"Boikot sekolah, yang diselenggarakan bersama oleh partai lokalis Demosisto, adalah bagian dari kampanye anti-pemerintah yang dipicu oleh RUU tersebut, yang akan memungkinkan transfer para kriminal ke yurisdiksi, di mana Hong Kong tidak memiliki kesepakatan ekstradisi, termasuk China daratan," tulis harian yang berbasis di Hong Kong, South China Morning Post, seperti dilaporkan Anadolu, Selasa (3/9/2019).

Namun, seorang akademisi di sebuah perguruan tinggi setempat mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa kebanyakan siswanya tetap menghadiri kegiatan belajar mengajar.

Hong Kong, wilayah otonom yang berada di bawah kendali China sejak 1997, didera aksi protes sejak awal Juni.

Warga menyuarakan penolakan terhadap keputusan pemerintah setempat untuk melegalkan hukum ekstradisi, yang akan memungkinkan tersangka yang melakukan kejahatan seperti pembunuhan dan pemerkosaan, dikirim ke China daratan.

"Yang menghadiri demonstrasi hari ini kebanyakan siswa sekolah menengah," kata Chien-Yu Shih, seorang guru di Hong Kong Chu Hai College.

Laporan media lokal menyebut, almamater Pemimpin Hongkong Carrie Lam dan kepala polisi Hong Kong menjadi sasaran protes, dan termasuk di antara sekolah-sekolah yang diboikot siswanya.

Siswa membentuk rantai manusia untuk menyuarakan tuntutan mereka sambil membagikan makanan kepada peserta aksi yang tidak sempat sarapan.

"Anak-anak muda berhasil melakukan protes yang menutup satu-satunya jalan ke bandara Hong Kong pada Minggu malam lalu dan mereka kelelahan," kata seorang penduduk lokal Hong Kong.

MTR Corporation, perusahaan pengelola kereta metro di Hong Kong, mengklaim dugaan vandalisme yang dilakukan secara terus-menerus oleh para demonstran memengaruhi 32 stasiun pada Sabtu (31/8/2019) dan 12 stasiun pada Minggu (1/9/2019).

"Para pengunjuk rasa merusak ruang kendali stasiun, kamera CCTV, mesin tiket dan merusak stasiun-stasiun itu dengan coretan," kata perwakilan perusahaan, seperti dikutip surat kabar daring Hong Kong Free Press.

Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghentikan protes.

Protes anti-ekstradisi dimulai pada awal Juni dan berlangsung selama 85 hari terakhir, di mana para demonstran mengajukan lima tuntutan kepada pemerintahan Lam.

Tuntutan tersebut di antaranya penarikan penuh RUU ekstradisi, pembentukan komisi penyelidikan independen atas dugaan kebrutalan polisi, pencabutan klasifikasi demonstran sebagai perusuh, amnesti bagi para demonstran yang ditangkap, serta hak pilih ganda universal untuk Dewan Legislatif dan Kepala Eksekutif.

Editor : Nathania Riris Michico

Let's block ads! (Why?)

from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping https://ift.tt/2NLhgJS

No comments:

Post a Comment