Pages

Sunday, December 30, 2018

Akhir Tahun, Kurs Dolar AS Terperosok

SINGAPURA, iNews.id - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) diperdagangkan melemah tipis pada perdagangan akhir tahun karena pelaku pasar masih mencermati perkembangan perang dagang antara AS-China.

Mengutip Reuters, Senin (31/12/2018), pelaku pasar akan mengamati dengan seksama kemajuan pembicaraan perdagangan antara Washington dan Beijing pada tahun baru. Sebelumnya, Presiden Donald Trump melalui akun media sosialnya mengatakan bahwa pembicaraan perang dagang dengan China berjalan dengan baik. Hal tersebut kemudian direspons positif oleh pasar.

Perang dagang yang terjadi antara dua negara telah mengganggu kestabilan pasar global sepanjang 2018. Pasalnya, dengan diberlakukannya tarif tinggi di kedua negara, menyebabkan terganggunya perdagangan dengan nilai miliaran dolar AS.

Pakar mata uang untuk Bank Singapura Sim Moh menuturkan, dengan adanya ketidakstabilan perdagangan, sektor industri manufakur China telah mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari dua tahun. "Sejauh ini sinyalnya positif, kita bisa melihat akan ada semacam perjanjian di Februari," kata Sim.

Beberapa pekan kebelakang, kurs dolar AS juga kerap mengalami pelemahan diakibatkan adanya ekspektasi bank sentral AS, The Fed, untuk menghentikan siklus pengetatan dan adanya perkiraan kembali naiknya suku bunga. Turunnya imbal hasil obligasi AS juga mengurangi sentimen investor terhadap dolar dalam beberapa pekan terakhir.

Meskipun begitu, sepanjang tahun ini indeks dolar AS mengalami kenaikan keseluruhan sebesar 4,6 persen. Hal ini disebabkan menguatnya perekeonomian AS, yang ditunjukan dengan menurunnya angka pengangguran dan meningkatnya angka upah karyawan.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama sedikit lebih rendah, berada di level 96,35 di awal perdagangan Asia.

Dolar Australia menguat 0,1 persen ke level 0,7049 dolar AS. Sementara itu, dolar AS dibeli 110,34 Yen Jepang. Masuknya investor yang khawatir adanya pelambatan perekonomian AS dan China,  kemudian membuat yen menguat 2,8 persen selama dua pekan kebelakang.

Swiss yang juga dianggap sebagai tempat aman untuk bagi para investor turut mengalami penguatan selama dua pekan kebelakang. Kurs franc swiss sekarang berada di level 0,9848 per dolar AS.

Kurs Euro juga mengalami penguatan terhadap dolar AS dalam kurun waktu beberapa pekan kebelakang. Saat ini euro bergerak flat ke 1,440 dolar AS. Meskipun begitu, Euro diprediksikan akan melemah 4,5 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun ini.

Di lain sisi, Poundsterling yang dalam beberapa pekan kebelakang mengalami pelemahan akibat adanya Brexit, bergerak menjadi 1,2700 per dolar AS. Poundsterling telah kehilangan nilai 6 persen terhadap dolar AS sepanjang 2018.

Editor : Ranto Rajagukguk

Let's block ads! (Why?)

from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping http://bit.ly/2QX8LhR

No comments:

Post a Comment