Pages

Thursday, May 30, 2019

Australia Tetapkan Upah Minimum Baru Rp7,5 Juta Seminggu

SYDNEY, iNews.id - Peradilan hubungan industrial Australia, Fair Work Commission, menaikkan upah minimum menjadi 740,80 dolar atau sekitar Rp7,5 juta sepekan. Sekitar 2,2 juta pekerja akan menerima manfaat dari keputusan ini terhitung mulai 1 Juli 2019.

Keputusan tahunan yang dirilis Komisi ini menyatakan, upah minimum di Australia naik sebesar 3 persen yaitu menjadi 19,49 dolar atau sekitar Rp200 ribu per jam.

Jam kerja perhari di negara ini adalah 7,6 jam atau 38 jam per minggu untuk yang bekerja full-time. Bekerja melebihi jam tersebut mengharuskan pemberi kerja untuk membayar uang lembur.

Ketua Komisi Fair Work Hakim Iain Ross dalam keputusannya pada Kamis (30/5/2019) menjelaskan kenaikan yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu disebabkan karena kondisi ekonomi saat ini.

"Kami yakin tingkat kenaikan yang kami tetapkan ini tidak akan menimbulkan inflasi berat serta tidak akan berdampak negatif bagi lapangan kerja," kata hakim Ross, seperti dilaporkan ABC News, Jumat (31/5/2019).

Serikat buruh Australian Council of Trade Unions (ACTU), yang menuntut kenaikan upah minimum sebesar 6 persen, menyebut keputusan Komisi sebagai kemenangan para pekerja.

"Masih jauh untuk bisa memastikan upah minimum ini mencukupi kehidupan dan mendukung keluarga pekerja," kata Liam O'Brien dari ACTU.

Kelompok pengusaha sebelumnya menghendaki kenaikan yang lebih kecil.

Kadin Australia hanya merekomendasikan kenaikan 1,8 persen.

"Alasannya kenaikan upah yang tak didukung produktivitas tinggi dan harga yang mahal bagi konsumen, hanya akan menyebabkan PHK."

Namun hakim Iain Ross menyatakan, pasar kerja tetap kuat meski terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi serta kenaikan upah sebelumnya.

"Tidak ada pihak yang menunjukkan data adanya dampak buruk terhadap lapangan kerja dari dua keputusan terdahulu," katanya, merujuk pada kenaikan upah minum 3,3 persen dan 3,5 persen dua tahun sebelumnya.

Keputusan Komisi ini diambil di tengah pertumbuhan penghasilan masyarakat yang tetap rendah. Biro Statistik (ABS) mengeluarkan data penghasilan yang bertumbuh hanya 2,3 persen selama tiga kuartal berturut-turut.

Secara terpisah, Gubernur Bank Sentral Australia Philip Lowe menyampaikan ke parlemen bahwa kenaikan 3,5 persen upah minimum sangat masuk akal.

Dia menyatakan stagnasi penghasilan rumah tangga merupakan ancaman nyata bagi belanja konsumen.

"Banyak orang meminjam uang dengan asumsi penghasilan mereka akan naik sesuai tingkat kenaikan sebelumnya, namun ternyata tidak terjadi," katanya.

"Mereka ini mengalami lebih banyak kesulitan, uang kontan yang semakin sedikit sehingga tak bisa belanja," tambah Lowe.

Editor : Nathania Riris Michico

Let's block ads! (Why?)

from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping http://bit.ly/2I3kbsM

Dua Terminal Ini Masih Sepi Pemudik Lebaran 2019, BPTJ Ungkap Penyebabnya

JAKARTA, iNews.id - Jika puncak arus mudik penumpang kereta api (KA) diprediksi terjadi pada Kamis, 30 Mei 2019 kemarin, hal itu tidak terjadi pada pemudik yang menggunakan bus. Mengingat, beberapa terminal bus masih terlihat sepi pemudik.

Direktur Angkutan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Aca Mulyana, mengemukakan penurunan jumlah pemudik mudik di sejumlah terminal dipicu kehadiran terminal bayangan.

"Situasi itu terjadi di Terminal Pondokcabe, Tangerang Selatan, dan di Terminal Tipe A Jatijajar, Depok," katanya di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Kamis (30/5/2019).

BACA JUGA:

Mudik Lebaran 2019, Polisi Terapkan One Way di Tol Trans Jawa Hari Ini

Mudik Lebaran 2019, Stasiun Jakarta Kota Layani Pemberangkatan KA Jarak Jauh

PT KAI Prediksi Puncak Arus Mudik di Stasiun Senen dan Gambir Hari Ini

Penurunan jumlah pemudik, Aca mengatakan, terlihat di Terminal Pondokcabe. Pada H-7 Lebaran atau Rabu (29/5), jumlah pemberangkatan bus hanya berkisar 70 unit yang membawa 128 penumpang.

Walaupun, jumlah tersebut meningkat dari situasi normal yang mencapai satu hingga dua unit bus per hari. Namun, situasi mudik di terminal tersebut masih relatif landai di masa mudik Lebaran.

Aca menduga, pemicunya karena kehadiran terminal bayangan yang bersifat ilegal yang beroperasional di sejumlah pool bus milik sejumlah perusahaan otobus.

"Terminal Pondokcabe belum begitu ramai karena masih banyak bus yang menaikkan penumpang di pool bus yang menjadi terminal bayangan," tuturnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Terminal Jatijajar akibat kehadiran terminal bayangan di sekitar Rumah Sakit Tugu Ibu Cimanggis dan di eks Terminal Ciputat.

"Dari catatan kami di lapangan, PO Maju Lancar hanya mengerahkan 25 unit bus, Sinar Jaya sepuluh unit bus," ujarnya.

Aca menilai, faktor lain dari sepinya penumpang juga dipicu kurangnya sosialisasi yang masif terhadap operasional dua terminal tersebut yang berjalan sejak 13 Maret 2018.

"Kami juga memberikan masukan kepada instansi terkait untuk mengintensifkan lagi penertiban terminal bayangan," katanya.

Editor : Djibril Muhammad

Let's block ads! (Why?)

from iNews.id | Inspiring & Informative kalo berita nya gak lengkap buka link disamping http://bit.ly/2XkyrUA